Ekosistem Batang Toru Mengancam Keberadaan Orang Utan
Berita Harian Medan – Orangutan Tapanuli atau Pongo tapanuliensis dinyatakan sebagai spesies kera besar terbaru di dunia. Spesies ini hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru di dataran tinggi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara.
Spesialis perlindungan landscape Batang Toru dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Graham Usher mengatakan, populasi Orangutan Tapanuli saat ini bisa terancam dari berbagai faktor. Saat ini, jumlah spesies Orangutan Tapanuli kurang dari 800 ekor. Habitatnya juga terancam akibat dari pertambangan di kawasan ekosistem Batang Toru.
“Ancaman dari industri. Kalau yang wilayah tambang emas itu jelas sudah beberapa hektare yang tadinya habitat orangutan sudah hilang, dan malah ada rencana ekspansi. Jadi itu mengancam Orangutan Tapanuli,” terangnya.
Warga negara asing dari Britania Raya tersebut menuturkan, ancaman bukan hanya datang dari pertambangan tapi proyek PLTA di Lembah Batang Toru juga mengancam kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli itu sendiri.
Berita Harian : Kemewahan Lexus LS 500 yang Masuk Pasar Indonesia, Intip Harganya Yuk“Proyek PLTA di Lembah Batang Toru yang bisa memisahkan antara populasi orangutan yang di blok barat dengan yang ada di Cagar Alam Dolok Sibual-buali. Kalau itu putus karena adanya pembangunan, berarti populasi yang di cagar alam untuk jangka panjang tidak bisa eksis, karena akan ada kerusakan turunan genetika. Itu salah satu hal yang dikhawatirkan,” tuturnya.
Terlepas dari pembangunan industri di kawasan ekosistem Batang Toru, Graham mengungkapkan, ancaman juga berasal dari perambahan lahan di ekosistem Batang Toru yang dilakukan manusia, sehingga membuat populasi Orangutan Tapanuli semakin sedikit.
“Selama hutan masih terus dijaga dan utuh, dia bisa hidup. Ancaman saat ini bermacam macam, ada pembukaan lahan oleh pendatang baru, dan mulai mengikis wilayah habitat orangutan,” ungkapnya.
Graham menjelaskan, saat ini kawasan ekosistem Batang Toru yang memiliki luas kurang lebih 150 ribu hektare terdiri dari tipe hutan yang berbeda-beda, 90 persen dari sisa kawasan yang ada merupakan dataran tinggi atau pegunungan.
“Berbagai keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya juga cukup banyak. Primadonanya adalah Orangutan Tapanuli yang memang hanya ada di kawasan hutan Batang Toru,” pungkas Graham.(admin)

Tidak ada komentar: